Yusuf Mariyono melakukan pengamatan hilal 1 Safar 1447 Hijriah menggunakan teleskop di titik rukyat Sukodono, Sidoarjo, Rabu (15/7/2026). Berdasarkan data astronomi, posisi hilal berada pada azimut 292,5 derajat dengan ketinggian 9,8 derajat saat Matahari terbenam.

SIDOARJO – Tim Rukyatul Hilal LDII melaksanakan pemantauan hilal awal bulan 1 Safar 1447 Hijriah secara serentak di berbagai daerah di Indonesia pada Rabu (15/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemantauan yang dilakukan oleh tim rukyatul hilal DPP, DPW, dan DPD LDII di berbagai wilayah sebagai bentuk kontribusi dalam pengamatan astronomi Islam.

Di Kabupaten Sidoarjo, pengamatan dilakukan oleh Yusuf Mariyono, Koordinator Rukyatul Hilal sekaligus anggota Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PDK) DPW LDII Provinsi Jawa Timur.

Pengamatan dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026 pukul 17.48 WIB dari titik observasi yang berada di wilayah Sukodono, Sidoarjo, tepatnya pada koordinat 7,393927° Lintang Selatan dan 112,632785° Bujur Timur. Posisi teropong berada pada ketinggian 42,5 meter di atas permukaan laut, sehingga memberikan cakupan pandang yang lebih baik ke arah ufuk barat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Yusuf Mariyono, posisi hilal pada saat pengamatan berada pada azimut 292,5 derajat dengan altitude (ketinggian) 9,8 derajat.

Data astronomi tersebut menunjukkan bahwa pada saat Matahari terbenam di wilayah Sidoarjo, posisi hilal telah berada cukup tinggi di atas ufuk sehingga secara teoritis memiliki peluang untuk diamati menggunakan peralatan optik seperti teleskop.

Pemantauan hilal yang dilakukan di Sidoarjo merupakan bagian dari kegiatan nasional yang melibatkan tim rukyatul hilal LDII di berbagai daerah. Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan hasil observasi hilal sebagai bagian dari pengembangan kajian astronomi Islam sekaligus mendukung proses rukyat yang dilakukan secara ilmiah.

Selain mengandalkan pengamatan langsung, tim juga menggunakan data astronomi sebagai acuan untuk menentukan arah pandang teleskop serta memperkirakan posisi hilal ketika Matahari terbenam.

Dalam praktik rukyatul hilal, sejumlah faktor turut memengaruhi keberhasilan pengamatan, antara lain kondisi atmosfer, tingkat kejernihan langit, awan di ufuk barat, kelembapan udara, serta kualitas peralatan optik yang digunakan.

Koordinator Rukyatul Hilal, Yusuf Mariyono, menjelaskan bahwa seluruh proses pengamatan dilakukan berdasarkan perhitungan astronomi sehingga arah teleskop dapat diarahkan secara presisi menuju posisi hilal.

"Berdasarkan data pengamatan, posisi hilal berada pada azimut 292,5 derajat dengan ketinggian 9,8 derajat pada saat rukyat pukul 17.48 WIB di lokasi pengamatan Sukodono, Sidoarjo," ujarnya berdasarkan data hasil observasi.

Ia menjelaskan bahwa titik pengamatan berada pada lokasi yang relatif terbuka dengan posisi teleskop sekitar 42,5 meter di atas permukaan laut, sehingga horizon barat dapat diamati dengan lebih optimal.

Kegiatan rukyatul hilal tidak hanya menjadi bagian dari penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi sarana pengembangan ilmu falak melalui pengamatan langsung terhadap posisi Bulan.


Data hasil observasi lapangan dapat menjadi bahan dokumentasi sekaligus pembanding terhadap hasil hisab atau perhitungan astronomi yang telah dilakukan sebelumnya.

Dengan adanya pemantauan yang dilakukan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, hasil observasi dari masing-masing daerah dapat menjadi referensi ilmiah mengenai kondisi hilal pada waktu yang sama namun dengan karakteristik geografis yang berbeda.

Di Sidoarjo, kondisi astronomi saat Matahari terbenam menunjukkan bahwa hilal telah memiliki ketinggian yang secara teoritis cukup untuk dilakukan pengamatan menggunakan perangkat optik. Meski demikian, keberhasilan melihat hilal secara visual tetap dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan atmosfer pada saat observasi berlangsung.

LDII secara rutin melaksanakan kegiatan rukyatul hilal melalui jaringan tim di tingkat DPP, DPW, dan DPD sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi astronomi Islam serta mendukung pelaksanaan ibadah yang berkaitan dengan penanggalan Hijriah berdasarkan pendekatan ilmiah dan observasi lapangan.(Yus/ojeb)

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar