Peserta Diklat Hisab Rukyat Angkatan II mengikuti praktik pengamatan hilal menggunakan teleskop digital di Pesantren Rumah Falak, Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2026). Kegiatan hasil kolaborasi DPP LDII dan Kemenag RI tersebut bertujuan memperkuat kompetensi tim rukyatul hilal nasional.

Jakarta - Di tengah kebutuhan akurasi penentuan kalender hijriah nasional, DPP LDII memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang ilmu falak dan rukyatul hilal berbasis digital. Melalui kerja sama dengan Pesantren Rumah Falak, DPP LDII menggelar “Diklat Hisab Rukyat Angkatan II” di Pesantren Rumah Falak, Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis LDII dalam memperkuat kontribusi organisasi terhadap penentuan awal bulan hijriah nasional, termasuk penetapan Idul Fitri dan Idul Adha melalui sidang isbat pemerintah.

Ketua Departemen Pendidikan, Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII, Wilnan Fatahillah menegaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar pembelajaran teori, tetapi juga penguatan kemampuan teknis lapangan bagi tim rukyatul hilal LDII di seluruh Indonesia.
“Kami berharap para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan teknis pada kegiatan rukyatul hilal. Pembinaan secara berkelanjutan ini diharapkan membuat tim rukyatul hilal DPP LDII semakin berkembang, serta mampu membantu pemerintah dalam pengambilan keputusan sidang isbat,” ujar Wilnan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi hisab rukyat modern, praktik pengamatan hilal, penggunaan teleskop digital, hingga pengukuran arah kiblat berbasis teknologi astronomi terkini.

Penguatan kompetensi ini dinilai penting karena proses penentuan awal bulan hijriah masih menjadi perhatian publik setiap menjelang Ramadan, Idul Fitri, maupun Idul Adha. Perbedaan metode klasik dan kontemporer dalam menentukan posisi hilal masih menjadi tantangan tersendiri di Indonesia.

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, KH Ismail Fahmi mengapresiasi langkah LDII dalam mengembangkan ilmu falak berbasis digital.
“Sinergi ini strategis mendukung perkembangan hisab rukyat di Indonesia,” kata KH Ismail Fahmi.
Menurutnya, penguasaan ilmu falak modern sangat dibutuhkan agar proses rukyatul hilal dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan minim kesalahan.
“Mengingat saat ini masih ada perbedaan metode klasik dan kontemporer dalam menentukan posisi hilal,” lanjutnya.

Sejak menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama RI melalui Pesantren Rumah Falak pada 2013, DPP LDII terus memperluas jaringan tim rukyatul hilal nasional.

Saat ini, LDII tercatat memiliki:

101 tim rukyat
465 personel aktif
Tersebar di berbagai provinsi di Indonesia

Keberadaan tim tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung observasi hilal nasional dan membantu pemerintah dalam sidang isbat.

Langkah ini juga memperlihatkan transformasi pendekatan dakwah dan pendidikan LDII yang mulai mengintegrasikan teknologi astronomi modern dalam aktivitas keagamaan.


Penguatan SDM hisab rukyat dinilai memiliki dampak luas, khususnya dalam:
  • meningkatkan akurasi penentuan kalender hijriah,
  • mendukung keputusan resmi pemerintah,
  • meminimalisasi perbedaan informasi awal bulan Islam,
  • memperkuat literasi ilmu falak di masyarakat,
  • serta mendorong regenerasi ahli rukyat berbasis digital.

Bagi masyarakat Muslim, kepastian informasi awal Ramadan dan hari raya menjadi isu penting yang selalu mendapat perhatian publik setiap tahun. Karena itu, keberadaan tim rukyat yang terlatih menjadi kebutuhan strategis nasional.

Bagi warga LDII di Kabupaten Sidoarjo dan Jawa Timur, kegiatan ini menjadi sinyal penguatan kapasitas organisasi menuju era digitalisasi dakwah dan pendidikan Islam. Pengembangan ilmu falak modern juga dinilai relevan dengan meningkatnya kebutuhan literasi teknologi di lingkungan pesantren dan lembaga keagamaan.

Dengan jaringan tim rukyat yang terus berkembang, kontribusi daerah dalam mendukung observasi hilal nasional diperkirakan semakin besar pada masa mendatang.(Ac)

Posting Komentar