LDII SIDOARJO I PASURUAN – Ada yang menarik dari kegiatan PC LDII Buduran, yang juga didukung oleh PC LDII Gedangan dan PC LDII Sukodono. Kali ini, PC LDII Buduran memberikan pembekalan Wawasan Kebangsaan dalam pengajian ibu-ibu, dengan materi “Peran Ibu dalam Menanamkan Nilai Cinta Tanah Air terhadap Anak”, kepada para ibu asal dari berbagai PAC LDII di Ranting Sewu, Desa Duren Sewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Minggu (3/5/2026). 

Hadir sebagai narasumber yaitu Kanit Binmas Polsek Buduran, IPTU Sutarno, S.H. Dengan moderator Ketua Bagian KIM (Komunikasi Informasi Media) DPD LDII Kabupaten Sidoarjo, Drs. Koesmoko. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dewan Penasihat PC LDII Buduran : KH Kosasih, Kyai Sugiono, dan Kyai Suwanto.

Sebagai peserta mayoritas adalah ibu-ibu dari wilayah PC LDII Buduran, yang terdiri dari ibu-ibu PAC LDII Wadungasih, PAC LDII Sukorejo, dan PAC LDII Sidokepung. Dari wilayah PC LDII Gedangan yaitu ibu-ibu PAC LDII Karangbong. Adapun dari wilayah PC LDII Sukodono yaitu ibu-ibu PAC LDII Jumputrejo. Suasana menjadi cair ketika moderator mengajak peserta beryel-yel, tepuk-tepuk, dan bernyanyi lagu kebangsaan. Dilanjutkan game (permainan) yang dikoordinasi oleh ibu-ibu pengurus yang menjadi panitia.

Ketua Dewan Penasihat PC LDII Buduran, KH Kosasih mengatakan, kegiatan tersebut diadakan  bertujuan untuk membekali ibu-ibu dalam mendidik anaknya, agar mempunyai Wawasan Kebangsaan. Sejak dini bisa ditanamkan karakter cinta bangsa dan tana air, nasionalisme, dan patriotisme. Dengan harapan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Hasilnya kelak bisa menjadi warga negara yang baik.

Wakil Ketua Wanhat PC LDII Buduran, Kyai Sugiono menambahkan bahwa orang yang paling dekat dengan anak-anak adalah para ibu. Oleh karena itu, ibu-ibu mempunyai peran yang sangat strategis dan esensial dalam mendidik anak-anaknya. Sejak kecil, anak-anak harus dikenalkan dan dibiasakan dengan lambang-lambang atau simbol-simbol kenegaraan.

Kanit Binmas Polsek Buduran, AIPTU Sutarno, SH. mengatakan,  Wawasan Kebangsaan sangat penting untuk setiap warga negara, agar semua bisa mengetahui hak dan kewajiban; dapat menjaga keragaman budaya, agaman, suku, bahasa; menjadi pelopor kedamaian dan keamanan di masyarakat.

Disebutkan, unsur-unsur Wawasan Kebangsaan itu meliputi : rasa kebangsaan (cinta tanah air, bangga menjadi bagian bangsa Indonesia); paham kebangsaan (pemahaman atas sejarah bangsa, ideologi negara, simbol-simbol nasional); semangat kebangsaan (tindakan nyata yang menunjukkan partisipasi dalam menjaga keutuhan negara).

“Materi Wawasan Kebangsaan bertujuan : memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa; menumbuhkan identitas nasional yang kuat; menghindarkan pengaruh negatif seperti radikalisme dan intoleransi. Bermanfaat bagi ibu-ibu untuk : meningkatkan pemahaman tentang pentingnya Wawasan Kebangsaan; membentuk peran aktif ibu dalam mendidik anak yang berkarakter nasionalisme; menanamkan nilai persatuan sejak dini di lingkungan keluarga,”jelasnya.

IPTU Sutarno, S.H. menyampaikan, ada 4 konsensus dasar bangsa (pilar kebangsaan). Pertama, Pancasila : menanamkan kejujuran, disiplin, empati, dan tanggung jawab. Kedua, UUD Negara RI Tahun 1945 : mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku, contoh : disiplin berlalu-lintas. Ketiga, NKRI : menjaga keutuhan keluarga dan lingkungan agar tetap rukun. Keempat, Bhinneka Tunggal Ika : menghargai perbedaan suku, agama, dan budaya di lingkungan tetangga.

“Contoh penerapan sehari-hari : mengajarkan anak untuk berbagi dan menghormati tetangga yang berbeda agama; menggunakan bahasa Indonesia dengan baik di rumah untuk persatuan; mengejarkan anak untuk hormat pada lambang negara (bendera merah putih),”katanya.

Adapun implementasi nilai bela negara terdapat 5 nilai dasar. Pertama, cinta tanah air (menggunakan produk Indonesia, menjaga kebersihan lingkungan). Kedua, sadar berbangsa dan beregara (patuh pada aturan, misalnya : peraturan lalu-lintas, membayar pajak). Ketiga, setia pada Pancasila (menerapkan toleransi dan musyawarah dalam kehidupan bermasyarakat). Keempat, rela berkorban (mengutamakan kepentingan umum, seperti: ikut gotong-royong, dibandingkan kepentingan pribadi). Kelima, kemampuan awal bela negara (menjaga kesehatan diri dan keluarga agar menjadi generasi yang kuat mental dan fisiknya).

Lebih lanjut disebutkan, pentingnya cinta tanah air sejak dini. Cinta tanah air bukan hanya soal upacara atau simbol, tetapi harus bangga menjadi bangsa Indonesia. Menghargai keberagaman suku, agama, dan budaya. Menjaga nama baik bangsa. Hal ini penting agar anak tidak mudah terpengaruh budaya negatif dari luar.

“Peran ibu dalam keluarga sebagai pendidik karakter, yang mengajarkan sopan-santun, jujur, dan disiplin. Menjadi role model (teladan) bagi anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pengawas perkembangan anak, dengan mengontrol pergaulan dan penggunaan media sosial,”katanya.

Beberapa tips disampaikan oleh IPTU Sutarno kepada ibu-ibu untuk menanamkan nilai kebangsaan kepada anak-anak. Di antaranya : membiasakan sikap gotong royong (mengajak anak membantu pekerjaan rumah, menanamkan kebersamaan dalam keluarga). Mengenalkan simbol negara (lagu Indonesia Raya, bendera merah putih, menghormati upacara). Mengajarkan toleransi (menghargai teman yang berbeda agama atau suku, tidak diskriminasi/membeda-bedakan). Melestarikan budaya lokal (mengenalkan makanan tradisional, mengajarkan bahasa daerah, mengikuti kegiatan budaya di lingkungan). Bijak menggunakan media sosial (tidak menyebarkan hoaks, mengajarkan anak menyaring informasi, menanamkan etika dalm berkomunikasi).

Adapun cinta tanah air dan bela negara dalam lingkungan keluarga bahwa bela negara bagi ibu-ibu bukan angkat senjata, melainkan menularkann rasa cinta tanah air kepada anak-anak. Di antaranya : ketahanan keluarga (menciptakan lingkungan rumah yang aman, nyaman, dan harmonis). Pendidikan karakter (membentuk anak agar memiliki karakter yang disiplin dan patriotik). Contoh penerapan sehari-hari : memilih untuk membeli produk-produk UMKM atau produk dalam negeri untuk kebutuhan dapur/rumah. Mengajarkan anak kisah-kisah pahlawan nasional. Mengajak anak merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di lingkungan rumah).

“Kesadaran berbangsa dan bernegara di lingkungan sosial, ibu-ibu sebagai anggota masyarakat harus berperan aktif menjaga persatuan dan kesatuan. Contoh penerapan sehari-hari : ikut serta dalam kegiatan kerja bakti atau arisan RT, tidak menjelek-jelekkan tetangga atau kelompok lain (menjaga toleransi), saling membantu tetangga tanpa memandang latar belakang (kesetiakawanan sosial),”jelasnya.

(Koes/KIM DPD LDII Kab. Sidoarjo)

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar