Pengurus LDII Kota Mojokerto Ikuti Diklat Rukyat Hilal DPW LDII Jawa Timur

GRESIK — Dua pengurus Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kota Mojokerto, Andika Septian dan Wiwien Herdyanto, mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Rukyat Hilal ke-4 yang diselenggarakan DPW LDII Jawa Timur di Gresik, Minggu (11/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan pengamat hilal dalam mendukung pengamatan awal bulan Hijriah.

Diklat tersebut menjadi bagian dari upaya LDII Jawa Timur memperkuat kapasitas tim falakiyah di 38 kabupaten/kota. Peserta mendapatkan pembekalan teori dan praktik pengamatan hilal agar mampu memahami teknik rukyat serta berkontribusi dalam proses penentuan awal bulan Hijriah.

Kegiatan ini melanjutkan program pelatihan serupa yang sebelumnya diselenggarakan di kawasan Gayungan, Surabaya, dan Sruni, Sidoarjo.

Berdasarkan pendataan Lembaga Falakiyah LDII Jawa Timur, tingkat keberhasilan pengamatan hilal masih berada di kisaran 40 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), sekaligus dukungan sarana dan prasarana pengamatan, termasuk teleskop.

Salah satu pemateri, Chabib, menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan pengamat dan ketersediaan peralatan yang memadai.

“Jangan sampai teleskop yang digunakan sudah canggih dan memenuhi standar, tetapi SDM-nya belum terlatih. Sebaliknya, jangan sampai semangat dan ilmu para pengamat sudah luar biasa, tetapi teleskop sebagai alat pendukungnya belum tersedia,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menjelaskan bahwa diklat tersebut dirancang untuk melatih tim rukyat hilal agar terbiasa melakukan pengamatan secara langsung dan dapat berkontribusi dalam penentuan awal bulan Hijriah.

Menurut Amrodji, ilmu falak memiliki sejumlah manfaat praktis, antara lain untuk mengetahui pergantian bulan Hijriah, menentukan waktu salat, mengetahui arah kiblat, serta memperkirakan waktu terjadinya gerhana.

Ia berharap tim falakiyah LDII dapat mengambil peran lebih aktif dalam pengamatan hilal, tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah mengenai penetapan awal bulan Hijriah.

“Selama ini LDII mengikuti apa yang sudah ditetapkan pemerintah. Ke depan, kita berharap tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah, tetapi juga bisa terjun langsung membantu pemerintah dalam menentukan hasil pengamatan hilal,” ujarnya.

Amrodji menambahkan, hasil pengamatan tim LDII dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku. Data dari berbagai lokasi pengamatan juga diharapkan dapat saling melengkapi untuk mendukung proses penetapan awal bulan Hijriah.

Dalam diklat tersebut, peserta menerima tiga materi utama, yakni teknik hisab dan rukyatul hilal, penggunaan aplikasi Mizwandroid untuk membantu menentukan titik pengamatan, serta metode mata elang sebagai salah satu teknik pendukung pengamatan.

Setelah mengikuti pembekalan teori, peserta melaksanakan praktik pengamatan hilal pada sore hari menjelang Magrib di rooftop Rumah Sakit (RS) Surya Medika, Dok LINES Jatim.

Keikutsertaan Andika Septian dan Wiwien Herdyanto diharapkan dapat menambah wawasan serta meningkatkan keterampilan pengamatan hilal bagi pengurus DPD LDII Kota Mojokerto. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan rukyatul hilal di daerah.

Melalui diklat ini, LDII Jawa Timur terus mendorong penguatan kapasitas tim falakiyah melalui peningkatan kompetensi teknis dan dukungan peralatan pengamatan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi pengamat hilal di daerah dalam mendukung proses penentuan awal bulan Hijriah sesuai ketentuan yang berlaku.(Adi/Ac)

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar