
Humas Ponpes Wali Barokah Asyhari Eko Prayitno menyampaikan nasihat seusai Salat Jumat di Masjid Baitul A’la, Kediri, Jumat (2/10/2026).
KEDIRI — Humas Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah, Asyhari Eko Prayitno, menyampaikan nasihat keagamaan seusai Salat Jumat di Masjid Baitul A’la, Kediri, Jumat (2/10/2026).
Dalam nasihatnya, Asyhari mengajak jamaah memperbarui komitmen ketakwaan, memahami hakikat kehidupan dunia, serta mempersiapkan amal sebagai bekal kehidupan akhirat.
Asyhari mengatakan ketakwaan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menurut dia, ketakwaan diwujudkan melalui ketaatan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya sesuai kemampuan.
Ia juga mengaitkan ketakwaan dengan keyakinan terhadap ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.
“Ketakwaan merupakan jalan satu-satunya menuju keselamatan. Seluruh manusia, apa pun agamanya, pasti menginginkan keselamatan, dan jalan keselamatan bagi kita adalah dengan menetapi ketakwaan kepada Allah,” ujar Asyhari.
Ia menambahkan, takwa menjadi landasan untuk menjalankan berbagai kebaikan dan menghadapi persoalan kehidupan.
Dalam bagian lain nasihatnya, Asyhari mengajak jamaah merenungkan perjalanan waktu dan keterbatasan kehidupan manusia di dunia.
Menurut dia, setiap waktu yang berlalu berarti berkurangnya kesempatan hidup manusia. Karena itu, kehidupan dunia perlu dimanfaatkan untuk melakukan berbagai kebaikan.
“Setiap detik yang dilalui manusia di dunia pada dasarnya terus mengurangi jatah umur yang diberikan oleh Sang Pencipta,” katanya.
Asyhari menggambarkan kehidupan dunia sebagai tempat untuk menanam amal dan kebaikan, sedangkan hasilnya akan dipertanggungjawabkan dalam kehidupan akhirat.
“Ketika di dunia kita menanam kebaikan, maka yang kita panen di akhirat juga kebaikan. Sebaliknya, kalau yang kita tanam adalah sesuatu yang jelek, maka ketika di akhirat kita juga akan memanen sesuatu yang jelek,” ujarnya.
Asyhari juga mengingatkan jamaah mengenai tanggung jawab manusia atas berbagai nikmat yang diterimanya selama hidup.
Ia mencontohkan anggota tubuh dan kemampuan manusia, seperti mata untuk melihat, tangan untuk bergerak, kaki untuk berjalan, serta napas yang terus dihirup.
Menurut Asyhari, seluruh karunia tersebut pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ia kemudian menyampaikan bahwa berdasarkan ajaran Rasulullah SAW, manusia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai umur, ilmu, harta, dan kondisi fisiknya.
Empat hal tersebut, menurut penjelasan Asyhari, berkaitan dengan bagaimana umur digunakan, apakah ilmu diamalkan, dari mana harta diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta untuk apa kondisi fisik digunakan.
Menjelang akhir nasihat, Asyhari mengingatkan jamaah agar tidak terlalu larut dalam angan-angan duniawi hingga menunda amal saleh.
Menurut dia, manusia dapat menyusun berbagai rencana dan cita-cita, tetapi tidak mengetahui kapan ajal datang.
“Dalam urusan akhirat, jangan menunda-nunda amal dan anggaplah hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk beramal,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak jamaah untuk terus meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal saleh.
“Tidak ada yang tahu kapan ajal kita datang, oleh karena itu mari kita semangatkan diri untuk terus beribadah dan memperbanyak amal saleh,” kata Asyhari.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bagi jamaah untuk memanfaatkan waktu kehidupan dengan memperkuat ketakwaan dan melakukan kebaikan.(Daud Soleh/Ac)
Posting Komentar