![]() |
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan, fenomena El Nino yang berlangsung di Samudra Pasifik berdampak signifikan terhadap iklim di tanah air. Foto: LINES |
JAKARTA — DPP LDII mendorong masyarakat memperkuat ketahanan air menghadapi musim kemarau 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui konservasi lingkungan, pemanenan air hujan, pengembangan tempat penampungan air, penghematan air, serta ikhtiar spiritual melalui Salat Istisqa.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan, kondisi iklim pada 2026 membutuhkan kesiapan masyarakat dalam mengelola sumber daya air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada September 2026 mencatat sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau. BMKG juga menyebut El Niño berada pada kategori sangat kuat.
Menurut Dody, ketahanan air tidak semestinya hanya dibangun ketika sumber air mulai berkurang. Masyarakat perlu menyiapkan sistem penyimpanan air sejak tersedia dalam jumlah cukup.
“Air memang perlu kita kelola sebagai sumber daya yang harus ditabung untuk menghadapi musim kering. Karena itu, masyarakat perlu membangun sistem ketahanan air secara mandiri dan gotong royong,” ujar Dody.
Dody mengatakan, bangunan masjid memiliki potensi untuk mendukung pemanenan air hujan. Air yang ditangkap dari atap bangunan dapat dialirkan ke tempat penampungan dan dimanfaatkan sebagai cadangan.
Ia mencontohkan pengembangan fasilitas penampungan air di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di Masjid Al-Fattah, PC LDII Saptosari, terdapat dua bak penampungan air. Masing-masing bak memiliki kapasitas sekitar 15.000 liter sehingga total kapasitasnya sekitar 30.000 liter. Informasi tersebut juga dimuat dalam publikasi LDII mengenai inovasi penampungan air di Gunungkidul.
Dody mengapresiasi pengembangan konsep masjid sebagai tempat penyimpanan air tersebut. Menurut dia, fasilitas keagamaan dapat dimanfaatkan sekaligus untuk mendukung kebutuhan masyarakat ketika pasokan air terbatas.
Model penampungan air serupa juga disebut telah dikembangkan di Gedung Serba Guna LDII DIY. Air hujan ditampung melalui sistem yang terintegrasi dengan bangunan dan kemudian disalurkan ke tandon.
Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (Lisdal) DPP LDII, Atus Syahbudin, mengatakan konservasi lingkungan dan pengembangan fasilitas penyimpanan air perlu dilakukan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Ia mendorong model tersebut direplikasi di daerah lain dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Prinsipnya sederhana: ketika air berlebih kita simpan, ketika kekurangan kita manfaatkan. Jangan sampai air hujan yang begitu banyak ketika musim hujan justru terbuang, sementara ketika kemarau masyarakat kesulitan mendapatkan air,” ujar Atus.
Pendekatan tersebut menempatkan pengelolaan air sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan kondisi musim. BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan kondisi lebih kering dari normal serta durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Salat Istisqa sebagai Ikhtiar Spiritual
Selain pendekatan ekologis, LDII juga mendorong ikhtiar spiritual melalui Salat Istisqa.
Salah satu kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Budi Utomo, Surakarta, pada Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti santri, pelajar SMP-SMA Budi Utomo, dan tenaga pendidik.
Pengasuh Pondok Pesantren Budi Utomo, KH Muhammad Thoyibun, bertindak sebagai imam Salat Istisqa.
Ketua DPD LDII Kota Surakarta Muhammad Zain mengatakan Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat dalam menghadapi kondisi kemarau.
“Kegiatan ini merupakan salah satu wujud membantu pemerintah dengan cara mengetuk ‘jalur langit’ melalui Salat Istisqa. Mudah-mudahan hujan segera turun dan berbagai dampak kemarau, termasuk kebakaran di TPA Putri Cempo, dapat segera teratasi,” ujar Zain.
Kebakaran TPA Putri Cempo memang terjadi di tengah periode kemarau. BNPB melaporkan penanganan kebakaran tersebut masih dilakukan pada awal September 2026, sementara pemerintah daerah juga melakukan langkah pemadaman dan perlindungan masyarakat.
Dody mengatakan persoalan lingkungan perlu dihadapi melalui kombinasi ikhtiar spiritual dan tindakan nyata.
Menurut dia, Salat Istisqa dapat berjalan bersama dengan gerakan menghemat air, memanen air hujan, menjaga lingkungan, serta membangun ketahanan pangan.
“Doa adalah bagian dari ikhtiar umat. Tetapi doa juga harus berjalan bersama usaha nyata,” kata Dody.
Dengan demikian, pesan utama yang disampaikan DPP LDII tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan Salat Istisqa, tetapi juga pengelolaan air sebelum dan selama musim kemarau.
BMKG sendiri pada September 2026 masih mencatat kondisi atmosfer yang relatif kering dan memperingatkan potensi kekeringan serta meningkatnya risiko kebakaran di sejumlah wilayah.
Bagi masyarakat, pengelolaan air hujan, penghematan penggunaan air, dan konservasi lingkungan menjadi bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi kondisi musim yang kering.(Lines/KIM)

Posting Komentar