![]() |
| Masker N95 |
JAKARTA — Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan potensi paparan abu terhadap mata dan saluran pernapasan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) melaporkan dua klaster sebaran abu vulkanik berdasarkan analisis citra satelit. Sebarannya mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan abu vulkanik memiliki karakter berbeda dibandingkan debu biasa karena mengandung silika dan partikel yang dapat mengiritasi organ tubuh.
“Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit,” kata Dicky kepada ANTARA di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Paparan pada mata, menurut Dicky, dapat menimbulkan iritasi, kemerahan, rasa perih, mata berair, sensitif terhadap cahaya hingga goresan pada permukaan mata.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian terutama bagi pengguna lensa kontak. Abu yang bersifat abrasif dapat terperangkap di sekitar mata dan meningkatkan risiko cedera.
Jika abu masuk ke mata, Dicky mengimbau masyarakat tidak menguceknya. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air bersih yang mengalir.
Apabila keluhan seperti iritasi, rasa mengganjal, nyeri hebat, penglihatan kabur atau kemerahan tidak membaik, masyarakat disarankan mendapatkan pemeriksaan medis.
Selain mata, abu vulkanik dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan. Paparan dapat disertai keluhan seperti batuk dan gangguan pernapasan.
Kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan akibat paparan abu, seperti anak-anak, lanjut usia serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu lebih berhati-hati.
Dicky menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu vulkanik tinggi.
Menurut dia, aktivitas fisik berat dapat membuat seseorang bernapas lebih cepat sehingga meningkatkan jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan.
Lima Langkah Mengurangi Paparan Abu Vulkanik
Dicky menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
1. Tutup Pintu dan Jendela
Masyarakat disarankan menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya abu vulkanik ke dalam ruangan.
Aktivitas di luar ruangan juga perlu dibatasi selama kondisi sebaran abu masih tinggi.
2. Gunakan Masker yang Sesuai
Jika harus berada di luar ruangan, Dicky menyarankan penggunaan masker N95 yang menutup hidung dan mulut dengan rapat.
Penggunaan masker terutama penting bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu.
3. Lindungi Mata
Selain perlindungan pernapasan, masyarakat disarankan menggunakan kacamata pelindung ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Perlindungan tersebut terutama relevan bagi pekerja lapangan yang tetap harus beraktivitas di tengah kondisi sebaran abu.
4. Gunakan Pakaian Tertutup
Pakaian tertutup dapat digunakan untuk mengurangi paparan abu terhadap kulit.
Dicky juga mengingatkan agar pakaian yang telah terkena abu tidak dikibas-kibaskan. Pakaian tersebut sebaiknya dibilas sebelum dibawa masuk ke rumah dan tidak dijemur di luar ruangan ketika abu masih banyak di sekitar tempat tinggal.
5. Lindungi Makanan dan Minuman
Masyarakat dan penjual makanan disarankan memastikan makanan serta minuman tetap tertutup untuk mencegah paparan abu.
Penutup makanan sebaiknya dibuka ketika diperlukan.
Dicky mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi pemerintah dan tidak panik.
Masyarakat yang mengalami sesak napas, nyeri dada atau gangguan pada mata disarankan segera mencari pertolongan di fasilitas kesehatan.
Imbauan tersebut disampaikan di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih dipantau pemerintah. PVMBG mencatat episode erupsi menerus sebelumnya berlangsung sekitar 25 jam, sementara status gunung tetap berada pada Level III atau Siaga.
Dengan kondisi sebaran abu yang dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengandalkan informasi resmi dari lembaga berwenang sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan.

Posting Komentar