Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya menyampaikan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui prinsip muzhid dan mujhid di tengah tekanan ekonomi global, Jakarta, Minggu (15/6/2026). Foto: Dok. DPP LDII.

Jakarta - Di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi nilai tukar rupiah, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan inflasi domestik, DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengajak masyarakat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui pola hidup sederhana dan produktif.

Ajakan tersebut dinilai relevan karena keluarga menjadi lapisan pertama yang merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok dan penurunan daya beli. Karena itu, LDII mendorong masyarakat untuk mencari sumber penghasilan tambahan rumah tangga sekaligus mengelola pengeluaran secara lebih bijaksana.

Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa ketahanan nasional pada masa penuh ketidakpastian sangat ditentukan oleh kemampuan keluarga dalam menghadapi tekanan ekonomi.

"Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan ini, kami mengajak warga untuk kembali mempraktikkan prinsip muzhid mujhid. Muzhid berarti hidup zuhud, sederhana, bersahaja, jauh dari konsumtif, dan mampu menahan diri dari belanja yang bukan prioritas. Sementara mujhid bermakna bersungguh-sungguh dalam mencari maisyah yang halal, giat bekerja, dan hidup produktif," ujar Dody dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (15/6/2026).

Menurutnya, kombinasi antara pengeluaran yang cermat dan upaya meningkatkan pendapatan menjadi benteng utama keluarga Muslim menghadapi tekanan ekonomi.


Ketika Harga Naik, Solidaritas Sosial Menjadi Penyangga

Dody mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan membeli kebutuhan pokok secara berlebihan atau panic buying. Sebaliknya, kondisi saat ini perlu dijadikan momentum memperkuat kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.

Ia menilai solidaritas sosial merupakan bantalan alami yang dapat membantu masyarakat yang terdampak lebih berat akibat gejolak ekonomi.


Ekonom UPN: Hidup Hemat Harus Diimbangi Produktivitas

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta sekaligus Sekretaris Majelis Pakar DPP LDII, Ardito Bhinadi.

Menurut Ardito, tekanan ekonomi nasional saat ini tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor global, mulai dari ketidakpastian pasar keuangan, fluktuasi harga energi dan pangan, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Kondisi tersebut dapat berdampak pada biaya produksi, harga barang kebutuhan, serta daya beli masyarakat," katanya.

Ardito menjelaskan, prinsip muzhid dan mujhid relevan diterapkan secara seimbang baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

Bagi keluarga, muzhid berarti hidup bersahaja, hemat, dan tidak konsumtif, dengan memprioritaskan kebutuhan pokok. Sedangkan mujhid berarti tetap bekerja keras, kreatif, meningkatkan keterampilan, serta jeli melihat peluang mendapatkan sumber penghasilan yang halal.


Pemerintah Juga Dituntut Efisien dan Produktif

Ardito menilai prinsip yang sama juga berlaku dalam tata kelola negara.

Menurutnya, muzhid dalam pemerintahan dapat diartikan sebagai kehati-hatian fiskal, penggunaan anggaran yang efektif dan tepat sasaran, efisiensi belanja, serta pengurangan pemborosan anggaran.

Sementara itu, mujhid berarti pemerintah perlu bekerja lebih sungguh-sungguh memperkuat sektor produktif, menjaga stabilitas harga, memperluas lapangan kerja, mendukung UMKM, serta memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

"Ketahanan ekonomi tidak hanya dibangun dari penghematan masyarakat, tetapi juga dari kebijakan publik yang efektif, adil, dan produktif. Masyarakat perlu bijak dalam konsumsi, pemerintah perlu bijak dalam belanja," jelasnya.


LDII Perkuat UMKM dan Literasi Keuangan Keluarga

Sebagai langkah konkret, DPP LDII terus mengoptimalkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penguatan pembiayaan berbasis syariah melalui Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di tingkat akar rumput.

Selain itu, edukasi literasi keuangan keluarga berbasis prinsip muzhid mujhid juga digencarkan melalui majelis taklim LDII di berbagai daerah di Indonesia.

Program tersebut diharapkan mampu memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong keluarga Indonesia tetap produktif dan tangguh menghadapi ketidakpastian ekonomi global.(Ac)

Sumber resmi: Keterangan Pers DPP LDII, Jakarta, Minggu, 15 Juni 2026.

Posting Komentar